BRMP Sulsel Gelar Workshop Percepatan Penyusunan CPCL Program Hilirisasi Perkebunan Kakao di Soppeng
Soppeng, Senin, 29 Juni 2026 – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Sulawesi Selatan (BRMP Sulsel) menggelar Workshop Percepatan Penyusunan Calon Petani Calon Lahan (CPCL) Program Hilirisasi Perkebunan Komoditas Kakao di Kabupaten Soppeng. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Workshop Percepatan Penyusunan CPCL yang telah dilaksanakan di Ruang Rapat BRMP Provinsi Sulawesi Selatan pada 12 Juni 2026.
Workshop ini bertujuan untuk mempercepat proses penyusunan, verifikasi, dan penginputan data CPCL sesuai dengan ketentuan yang berlaku sehingga pelaksanaan Program Hilirisasi Perkebunan Komoditas Kakao dapat berjalan secara tepat sasaran, tepat administrasi, dan tepat waktu.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua Kelompok Substansi (Kelsi) Pengelolaan Penyuluhan Pertanian BRMP Provinsi Sulawesi Selatan, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Soppeng, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Soppeng, Ketua Tim Kerja (Katimker) Kabupaten Soppeng, KJF Provinsi, para penyuluh pertanian pendamping CPCL Kakao, serta petugas lapangan perkebunan di Kabupaten Soppeng. Workshop ini diikuti oleh 82 peserta yang terdiri atas penyuluh pertanian dan petugas lapangan perkebunan.
Dalam arahannya, Ketua Kelompok Substansi Pengelolaan Penyuluhan Pertanian menegaskan bahwa penyuluh pertanian memegang peranan strategis dalam mendukung keberhasilan seluruh program prioritas Kementerian Pertanian.
"Penyuluh wajib mendampingi seluruh program strategis Kementerian Pertanian."
Beliau menyampaikan bahwa Program Hilirisasi Perkebunan merupakan salah satu program strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan, khususnya kakao. Oleh karena itu, keberhasilan program sangat ditentukan oleh sinergi dan koordinasi yang baik antara dinas terkait, penyuluh pertanian, petugas lapangan perkebunan, pemerintah kecamatan, dan pemerintah desa.
Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya memperkuat koordinasi lintas sektor agar setiap permasalahan yang muncul di lapangan dapat segera diidentifikasi, dikoordinasikan, dan diselesaikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Soppeng, H. Azis, S.Hut., M.Si., selaku narasumber, menyampaikan bahwa Kabupaten Soppeng memperoleh alokasi Program Hilirisasi Perkebunan Kakao seluas 2.200 hektare, yang terdiri atas 1.000 hektare kegiatan peremajaan kakao dan 1.200 hektare kegiatan perluasan areal tanam kakao.
Dalam paparannya, beliau menegaskan pentingnya ketelitian dalam penyusunan CPCL agar seluruh data yang diusulkan benar-benar akurat dan memenuhi seluruh persyaratan administrasi maupun teknis.
"Saya berharap seluruh petugas pendamping, penyuluh pertanian, dan jajaran teknis memahami secara utuh kriteria CPCL yang telah ditetapkan. Jangan hanya mengejar target jumlah, tetapi pastikan data yang diusulkan benar, valid, sesuai dengan kondisi lapangan, serta memenuhi seluruh persyaratan administrasi maupun teknis."
Beliau juga berharap workshop ini mampu menyamakan persepsi seluruh peserta mengenai mekanisme penyusunan, verifikasi, dan penginputan CPCL, sehingga setelah kegiatan berakhir setiap peserta dapat segera menindaklanjuti hasil workshop di wilayah kerja masing-masing.
Pada sesi diskusi, para penyuluh pertanian dan petugas lapangan perkebunan menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi dalam proses identifikasi dan penyusunan CPCL. Salah satu permasalahan yang menjadi perhatian adalah adanya beberapa kelompok tani yang mengundurkan diri dari usulan Program Hilirisasi Perkebunan karena sebelumnya telah menerima bantuan yang bersumber dari APBN. Meskipun bantuan yang diterima berasal dari komoditas yang berbeda, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian dan akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan instansi terkait untuk memastikan pelaksanaan program tetap sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Melalui workshop ini diharapkan proses penyusunan CPCL Program Hilirisasi Perkebunan Kakao di Kabupaten Soppeng dapat diselesaikan secara lebih cepat, akurat, dan berkualitas. Dengan demikian, pelaksanaan program diharapkan mampu meningkatkan produksi, produktivitas, dan nilai tambah komoditas kakao, sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan petani di Kabupaten Soppeng.
Kegiatan berlangsung dengan lancar dan interaktif. Workshop ditutup dengan penyampaian rencana tindak lanjut, penegasan komitmen seluruh peserta untuk mempercepat penyelesaian CPCL di wilayah kerja masing-masing, serta sesi foto bersama sebagai simbol sinergi dan kolaborasi dalam mendukung keberhasilan Program Hilirisasi Perkebunan Komoditas Kakao di Kabupaten Soppeng.
(FA)